Suasana kantin saat makan siang, bisa dibilang mirip pasar tradisional dipagi hari
Ramai ,riuh,penuh .
Tampak mahasiswa bergerombol di satu meja besar tepat disisi kananku,biasanya sih kawan satu jurusan atau himpunan .
Ada juga yang datang berdua atau bertiga,namun mereka harus rela berbagi meja dengan mahasiswa yang lain .
Obrolan - obrolan yang terdengar ditelingaku tidak jauh kaitannya dari kegiatan unit,himpunan,tugas,dan juga tentunya romantisme
Garis besarnya "Siapa naksir siapa?" siapa lagi PDKT dengan siapa,dan juga siapa tolak siapa . Maklum jumlah perbandingan mahasiswa putri dan putra sangat jauh berbeda dikampus peradaban ini . Persaingan ketat .
Meskipun sebenarnya aku bukan tipikal orang yang suka dengan tempat riuh ; seperti ini .
Namun aku tetap asik menyantap lahap makanan yg telah di suguhkan ,beserta minuman favorit ku "es teh manis" tentunya .
Sekilas terdengar doktrin ala senior yg seakan menyuruh juniornya laksana turun aksi demonstrasi
"Aktivis muda" gumamku dalam hati
Akupun cekikikan sendiri
Ujung-ujungnya akupun tersedak mendengar suara yg tak asing kudengarkan ini
Dari jarak hanya beberapa meter
Akupun curi- curi pandang dari tempatku duduk berdiam diri
Yang bisa dikatakan kurang minimalis kursinya
Tentu tak seimbang dengan tubuhku yang mungil ini .
Ku angkatkan bahuku sedikit dengan kedua lengan yang Tuhanku berikan
Akupun tersentak ,ku hempaskan tubuhku duduk dgn semborononya
Ya Tuhan...
Aku tahu betul
lekuk tubuh dan hiruk-pikuk gemetar suaramu
riuh..ketika dihadapkan oleh temanmu
Namun teduh ketika kau dihadapkan wanita yg kau cintai
Aku amati itu ketika kau berbicara dengan ibumu
Bagai langau mengerumuni bangkai
Kau lagi asik bercanda gurau dengan rekanmu
Ku duduk tepat dibelakangmu
Memandangimu yang kunjung baru kutemui
Ku biarkan makananku lahap disantap langau yang kusebutkan tadi
Hei kau yang begitu pandai melantunkan kata tajam ,menyayat hati .
Tahukah kau berapa lama kau tusuk ku dengan benda tajam yang tidak jelas wujud adanya?
Lantas masih ingatkah kau dengan kepergianmu yang tidak jelas dalih ?
Aku tahu daya nalarmu melampaui batas itu
Intuisi mu pun tahu kalau aku menunggu
Namun Aku selalu payah dalam bergumam rindu .
Bahkan tak sepandai dirimu , ketika menjelaskan percik basah argumentasi itu sendiri
Bukanlah sebuah kerugian jika sebuah kesalahan dinyatakan lewat sebuah pengakuan
Banyak tanya yang tidak sesuai ekspektasi itu sendiri
Mungkin diam,sebab isak tangisku hanya membuat kau makin muak saja
Padahal kau tahu sendiri ,kau beradu mulut dgn awan yg kau buat .
Ego mu di sore itu masih kau renungkan
Tapi maafmu tak kunjung datang
Tertera jelas.. Aku yang payah ,dan kau bertahan dengan keras hatimu .
Berapa sering kau salahkanku menjalin kasih dengan lelaki lain
Berapa sering ku berusaha membuka hati kak ,namun gagal karena lagi lagi ego ku mencintaimu yang tak kunjung memberikan kabar
Tepat diarah jam 2
Kutitipkan rinduku di meja itu
Aku pun bergegas pergi tanpa menyapamu terlebih dahulu
Iya..aku ingat kutipan itu
walau beribu bahkan berjuta samudera air garam
tak akan sanggup mengasinkan pahit kepedihan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar